by

Siaga 3, Akankah Gunung Merapi Kembali Meletus?

Aktivitas pada Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta saat ini terus meningkat beberapa waktu terakhir. Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang paling aktif di negara Indonesia. Tercatat dalam beberapa tahun terakhir sudah sering mengeluarkan gempa guguran, abu vulkanik, hingga meletus beberapa saat lalu.

Saat ini, gunung tersebut kembali aktif dengan banyak terjadinya gempa guguran dan abu vulkanik. Hal tersebut mengingatkan bencana besar besar meletusnya gunung tersebut beberapa tahun lalu. Pada saat itu letusan gunung tersebut menghancurkan banyak rumah dan bahkan juru kunci, Mbah Maridjan juga harus meninggal.

BACA JUGA  Fakta Najwa Shihab, Putri Habib Rizieq yang Curi Perhatian

Sejak kamis lalu, statusnya telah naik satu tingkat menjadi siaga 3. Banyak orang menganggap bahwa naiknya status tersebut akan menjadi awal bahaya di sekitar gunung. Ada banyak kota dan kabupaten yang terdampak jika Merapi benar-benar meletus.

Namun benarkah naik status akan menyebabkan gunung tersebut meletus?

Belum Bisa Dipastikan

Pada dasarnya, naiknya status sebuah gunung berapi tidak menjadikan atau menetapkan bahwa akan ada letusan.

BACA JUGA  Bantuan BST Turun, Begini Cara Cek Secara Online

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, akan meletus atau hanya aktifitas sementara. Aktifitas dapur magma bisa terjadi sementara sehingga menimbulkan gempa guguran atau gempa vulkanik dalam jumlah tertentu setiap harinya.

Dari data letusan yang sudah tercatat, umumnya aktifitas tersebut akan kembali normal dalam waktu tertentu.

Namun jika memang aktifitas vulkanisnya meningkat, diperkirakan letusan tidak sebesar letusan tahun 2010. Namun, diperkirakan setidaknya dampak letusan akan sama dengan tahun 2006 di mana ada guguran lava dan awan panas.

BACA JUGA  Kabar Gembira, BLT Ketenagakerjaan 1,2 Juta Segera Cair

Letusan yang besar bisa saja terjadi jika gempa guguran menurun secara drastis dengan gempa vulkanik meningkat. Namun kesempatan lain juga bisa terjadi ketika gempa guguran meningkat tajam namun gempa vulkanik menurun. Hal tersebut membawa pada sebuah fase bernama keseimbangan baru di mana banyak awan tanpa letusan.

Meskipun statusnya naik dan belum bisa diprediksi, namun ada baiknya tetap waspada. Apalagi jika mengingat letusan pada 2004 dan 2010 lalu yang membawa dampak besar bagi masyarakat.

BACA JUGA  Bentuk Kegiatan untuk Perayaan Hari Pahlawan 10 November 2020

Maka dari itu, persiapan sejak dini adalah salah satu cara pencegahan. Hal tersebut juga bisa mengurangi korban jiwa.